PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Wayang adalah salah satu warisan kebudayaan di Indonesia yang memiliki banyak sekali macamnya. Seperti wayang kulit, wayang golek, wayang krucil, wayang tengul dan lain sebagainya. Setiap wayang tersebut memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Biasanya wayang digunakan sebagai hiburan, upacara-upacara adat dan tradisi masyarakat. Di Indonsia wayang kulitlah yang sangat dikenal. Oleh karena itu, kami ingin memperkenalkan kembali wayang yang sekarang sudah mulai hilang di kehidupan masyarakat yaitu WAYANG KRUCIL.
Wayang krucil yang kami ambil dalam karya tulis ilmiah ini adalah Wayang Krucil dari Bojonegoro dan Kediri. Di Bojonegoro wayang krucil terbuat dari kayu dengan alat-alat yang digunakan masih tradisional. Sedangkan di Kediri wayang krucil tersebut di buat inovasi baru, yaitu terbuat dari triplek dan kertas karton. Dalam pembuatannya juga menggunakan alat yang sudah modern. Dalam karya tulis imliah ini, kami akan menjelaskan cara pembuatan wayang tersebut, sampai cara melestarikannya melalui teknologi. Sebelum langkah ini ditempuh, terlebih dahulu akan dipaparkan beberapa hal yang berkenaan dengan judul karya tulis ilmiah ini.
B. Alasan Pemilihan Judul
1. Alasan Obyektif
Wayang krucil di Indonesia tidak terlalu di kenal masyarakat. Hal ini karena wayang krucil jarang digunakan ketika ada acara. Sehingga keberadaan wayang krucil mulai punah dan jarang ditemukan.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan Wayang krucil.
Pengrajin dan Dhalang wayang krucil mulai sulit ditemukan.
2. Alasan Subyektif
Menurut pengamatan penulis yang didasarkan pada beberapa objek yang dituju, belum ada yang mengangkat permasalahan ini dalam bentuk karya tulis ilmiah. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengungkapkan seberapa jauh wayang krucil dilestarikan seiring dengan perkembangan tehnologi yang mempengaruhi nasib kesenian wayang krucil.
Penulis ingin mengetahui kebenaran sejarah punahnya wayang krucil yang ada di Bojonegoro dan Kediri
Penulis ingin mengetahui lebih jauh mengenai wayang krucil dari Bojonegoro dan Kediri ini.
C. Batasan Judul dan Rumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan dan menghindari salah pengertian, maka penulis perlu menguraikan beberapa kata penting dari judul karya tulis ilmiah.
WAYANG. Wayang adalah seni pertunjukkan boneka dari kayu maupun kulit yang merupakan kesenian asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali.
WAYANG KRUCIL. Wayang krucil adalah kesenian khas Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang terbuat dari bahan dasar kulit dan berukuran kecil. Seiring perkembangan zaman, wayang ini dibuat menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.
UPAYA.Upaya yaitu usaha; ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya); daya upaya.
PELESTARIAN. Pelestarian dalam Kamus Bahasa Indonesia berasal dari kata lestari, yang artinya adalah tetap selama-lamanya tidak berubah. Kemudian dalam penggunaan bahasa Indonesia, penggunaan awalan pe- dan akhiran –an artinya digunakan untuk menggambarkan sebuah proses atau upaya (kata kerja).
SEJARAH. Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, yang berarti "penyelidikan, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian") adalah studi tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Dalam bahasa Indonesia sejarah babad, hikayat, riwayat, atau tambo dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.
KEBUDAYAAN. Kebudayaan/ke·bu·da·ya·an/ n hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; Antar keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
TEKNOLOGI. Teknologi memilki arti metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan / keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Bertolak dari batasan judul di atas, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaiman sejarah wayang krucil di Indonesia ?
Siapa saja tokoh-tokoh wayang krucil ?
Bagaimana upaya pelestarian wayang krucil melalui teknologi ?
D. Ruang Lingkup dan Segi Peninjauan
Agar diperoleh suatu gambaran yang tegas dan komprehensif dalam mengkaji wayang krucil dalam upaya pelestarian warisan sejarah dan kebudayaan melalui teknologi. Penulisan menitikberatkan pada latar belakang yang meliputi sejarah wayang krucil, tokoh-tokoh wayang krucil, Pagelaran wayang krucil, dan upaya pelestarian wayang krucil melalui teknologi sehingga dapat menimbulkan rasa kebangkitan generasi penerus bangsa untuk lebih melestarikan wayang krucil. Dalam penyajiannya, penulisan sejarah ini menggunakan pendekatan multi dimensional serta menggunakan pendekatan politik, sosiologis dan structural. Dengan penggunaan tiga macam pendekatan ini, dimaksudkan untuk menghasilkan penulisan yang bersifat komprehensif.
E. Sumber yang Digunakan
Bobot dari suatu karya tulis ilmiah sangat ditentukan oleh sumber-sumber yang digunakan. Secara garis besar, sumber dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer dan sekunder.
Sumber Primer
John W. Best mendefinisikan sumber primer sebagai “cerita atau penuturan atau catatan para saksi mata atau juga data tersebut dilaporkan oleh pengamat atau partisipan yang benar-benar menyaksikan peistiwa itu (John W. Best). Adapun sumber-sumber primer yang digunakan antara lain :
Penelitian atau pengamatan langsung tentang pembuatan wayang krucil di Bojonegoro dan Kediri.
Wawancara dengan mewawancarai tokoh-tokoh tertentu yang masih perduli dan mau melestarikan wayang krucil. Diantaranya wawancara dengan mbah Sukijah dhalang putrid dari Bojonegoro, mbah Santoso pengrajin wayang dari Bojonegoro, dan Pak petrus pelestari dan pengrajin wayang dari Kediri.
Sumber Sekunder
John W. Bes mendefinisikan sumber sekunder sebagai “cerita atau penuturan atau catatan mengenai suatu peristiwa yang tidak disaksikan oleh pelapor. Pelapor mungkin pernah berbicara dengan saksi mata yang sebenarnya atau membaca laporan/berita/catatan saksi mata tetapi kesaksian pelapor itu tetap bukan kesaksian saksi mata tersebut (John W. Best) Sedangkan sumber skunder yang penulis gunakan adalaah sebagai berikut :
Wijiyo, Alice. 2012. Jagad Wayang Klithik. Siwalankerto: Desain Komunikasi Visula Universitas Kristen Petra.
Setya, Yuwana. 2000. Wayang Krucil Sebagai Seni Pertunjukan Rakyat. Surabaya: Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.
F. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Merupakan sarana latihan bagi penulis untuk mempraktekkan metodologi penelitian sejarah dan histografi yang diperoleh, sehingga disiplin ilmu sejarah akan selalu berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas.
Melatih daya pikir kritis-analitis dan objektif terhadap fenomena dan realitas yang ada dimasyarakat, yang diharapkan dapat meningkatkan sifat kepekaan sosial.
Tujuan Khusus
Untuk menambah dan memperluas cakrawala ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang sejarah hasil kebudayaan kesenian wayang.
Untuk memberikan gambaran yang tegas, jelas, dan mendalam, yang menguraikan tidak hanya apa dan kapan tetapi juga menguraikan mengapa dan bagaimana upaya pelestarian warisa sejaraah dan kebudayaan (wayang krucil) melalui teknologi.
Untuk mengetahui bagaimanaa nasib kesenia wayng krucil di Indonesia seiring berkembangnya teknologi diera modern ini.
G. Kegunaan Penulisan
Bagi Pembaca
Dengan mempelajari karya tulis ilmiah ini, pembaca diharapkan akan lebih memahami dan mendapatkan gambaran yang benar dan objektif tentang upaya pelestarian warisan sejarah dan kebudayaan (wayang krucil) melalui teknologi.
Pembaca diharakan dapat mengambil pelajaran yang positif dari karya tulis ilmiah ini sehingga para pembaca dapaat melestarikan warisan sejarah dan kebudayaan (wayang krucil) melalui teknologi seiring berkembangnya teknologi diera modern ini.
Bagi Penulis
Karya tulis ini merupakn alat evaluasi bagi penulis tentang kemampuan intelektual dalam penulisan sejarah.
Penulis dapat mengkaji upaya pelestarian warisan sejarah dan kebudayaan (wayang krucil) melalui teknologi, sehingga menambah nuansa kesejarahan bagi penulis dan diharapkan dapat bersikap lebih dewasa, arif, dan bijaksana dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.
BAB II
METODE PENELITIAN
A.Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 24 November 2016. Penelitian ini dilakukan di Bojonegoro dan Kediri. Kegiatan, waktu dan tempat penelitian sebagai berikut :
KEGIATAN
TANGGAL
KETERANGAN
Penelitian di rumah Mbah Dalang Sukijah Bojonegoro
24-25 November 2016
Penelitianacara pagelaran Ruwatan wayang krucil
Penelitian pertama di rumah Mbah Dalang Santoso Bojonegoro
15 Desember 2016
Wawancara mengenai wayang krucil Bojonegoro
Penelitian kedua di rumah Mbah Dalang Santoso Bojonegoro
24 Desember 2016
Pembuatan Wayang Krucil
Penelitian di rumah Pak Petrus Kediri
25-26 Desember 2016
Pembuatan Wayang Krucil Kreasi Baru dari Triplek
B. Populasi dan Sampel
Dalam setiap penelitian tak dapat terlepas dari populasi dan sempel. Populasi dan sempel merupakan hal terpenting dalam penelitian. Dimana keduanya sebagai objek yang diteliti dalam penelitian.
Populasi Penelitian
Populasi adalah himpunan yang lengkap dari satuan, individu atau elemen-elemen yang karakteristiknya ingin kita ketahui. Banyaknya individu atau elemen yang merupakan anggota populasi disebut sebagai ukuran populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah berbagai jenis wayang krucil yang ada di Bojonegoro dan wayang triplek yang ada di Kediri.
Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Dengan kata lain, sampel adalah himpunan bagian dari populasi Sampel dari penelitian ini adalah para dhalang dan pengrajin wayang dari Kediri dan Bojonegoro, yaitu mbah Sukijah, mbah Santoso, dan pak Petrus.
C. Metode Pengumpulan Data
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori. Pengumpulan data pada penelitian kualitatif ini dapat diperoleh melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara.
a. Observasi
Observasi yang dilakukan berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan Wayang Kruci, pembuatan wayang krucil, pagelaran wayang krucil pada saat ruwatan, serta upaya pelestariannya. Pengamatan dilakukan dengan melihat tekstual dan kontekstual keseluruhan objek. Tekstual berkaitan dengan stuktur, unsur-unsur, estetika, maupun arstistik wayang krucil, sedangkan kontekstual berkaitan dengan pelestaraian wayang tersebut. Pengamatan dilengkapi dengan pendokumentasian, sehingga pengamatan tidak hanya dilakukan saat pembuatan tersebut berlangsung, namun pengamatan dapat dianalisa melalui hasil pendokumentasian.
b. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data tertulis yang berhubungan dengan topik penelitian. Data-data tertulis dapat diperoleh dari media cetak baik dalam bentuk artikel, makalah, maupun jurnal. Studi data tertulis juga didapat dari buku-buku tertentu, diantaranya buku yang berjudul “Wayang Krucil” karya Setya Yuwana dan buku yang berjudul “Jagad Wayang Klithik” karya Alice Wijoyo. Beberapa buku dan sumber tersebut diharapkan dapat memepermudah kami dalam mendapatkan informasi berupa data tertulis yang berkenaan dengan Wayang Krucil.
c. Wawancara
Wawancara merupakan cara-cara untuk memperoleh data dari narasumber primer maupun sekunder yang berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan topik penelitian. Wawancara pada narasumber primer dapat diperoleh dari dalang dan pengrajin Wayang Krucil di Bojonegoro dan Kediri. Adapun wawancara narasumber sekunder dilakukan kepada para informan yang berkaitan dan berkompeten dengan topik penelitian seperti tokoh masyarakat yang melestarikan Wayang Krucil. Wawancara dilengkapi dengan pendokumentasian, baik audio maupun video. Metode wawancara yang digunakan adalah metode wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang telah direncanakan, baik prosedur penelitian, pertanyaan maupun waktu untuk melakukan wawancara. Metode wawancara tersebut dilakukan agar dapat memperoleh informasi yang mendalam dan terbuka. Adapun para narasumber tersebut adalah Mbah sukijah dari Bojonegoro yang merupakan Dhalang putri, Mbah Santoso dari Bojonegoro selaku Dhalang dan Pembuat wayang krucil. Pak Petrus dari Kediri selaku tokoh masyarakat yang melestarikan wayang krucil dan mampu membuat inovasi wayang dari Triplek
D. Metode Penulisan
Teknik penulisan data sejarah yang dipakai adalah metode penulisan kritis, ini diadakan berdasarkan pada cara kerja penyusunan rekontruksi sejarah yang mengharuskan seorang peneliti sejarah melakukan dua kerja, yaitu penelitian sejarah itu sendiri dan penulisan sejarahnya (Surjomihardjo, 1985 : xiii). Menurut Nugroho Notosusanto ada empat langkah kegiatan dalam metode sejarah, yaitu :
Heuristik, yakni kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau yang dikenal sebagai data-data sejarah.
Kritik sejarah, yakni kegiatan meneliti apakah isinya, hingga benar-benar merupakan fakta-fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Interpretasi atau Sintesa, yakni menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta sejarah yang diperoleh, setelah diterapkan kritik ekstern maupun kritik intern dari data-data yang berhasil dikumpulkan.
Penyajian, yakni yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk suatu karya sejarah (Nugroho Notosusanto).
Dengan demikian dapat dikemukakan di sini bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis mencoba menerapkan metode historis yang yang di dalamnya mencangkup proses pengumpulan dan penafsiran gagasan, data, atau peristiwa yang timbul untuk memahami sejarah. Secara kronologis prose situ dimulai dari mencari dan mengumpulkan sumber, melakukan kritik atsu uji terhadap sumber, membangun kesimpulan sementara dan terakhir menyusun kesimpulan menjadi suatu kisah sejarah.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Sejarah Wayang Krucil
Wayang krucil atau wayang klithik adalah pertunjukan boneka datar dua dimensi yang terbuat dari kayu yang diukir dan diberi warna. Hanya lengannya yang terbuat dari kulit yang dapat digerakkan. Sering kali kepala terlihat lebih bulat.
Awalnya wayang krucil terbuat dari kulit seperti wayang kulit, hanya bentuknya lebih kecil sehingga disebut krucil. Baru pada perkembangan selanjutnya, bahan yang digunakan adalah kayu sehingga dinamai wayang klithik. Bahan kayu yang digunakan adalah kayu pule atau mentaos. Jenis kayu ini memiliki serat kayu yang halus yang sangat cocok untuk dijadikan wayang. Sayang, saat ini kayu ini semakin susah didapat.
Dari Serat Sastramiruda, kita bisa mengetahui bahwa wayang krucil pertama kali dibuat oleh Ratu Pekik di Surabaya pada 1571 Saka (1648 M). Dalam sejarahnya, wayang ini pernah mencapai masa kejayaannya dan populer di beberapa daerah di Jawa Timur, seperti di Nganjuk, Kediri, dan Malang.
Wayang Krucil memiliki ketebalan 2-3 centimeter, bentuknya mengarah tiga dimensi. Dengan bentuk ini, karakter pada wayang krucil terkesan lebih bernyawa jika dibandingkan dengan wayang kulit.
Di Jawa Tengah, wayang krucil menjadi kesenian khas Kabupaten Blora. Di sini, bentuknya mirip dengan wayang gedog. Sementara di Jawa Timur, tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba.
Cerita yang dimainkan dalam pementasan wayang krucil bersumber dari berbagai kisah. Yang terkenal adalah Serat Damarwulan, legenda dari kerajaan Majapahit. Bagian yang paling disukai adalah terbunuhnya Minakjingga. Kisah populer lainnya adalah Mahabharata, kisah Panji Asmorobangun, dan cerita Menak.
B. Tokoh Wayang Krucil
Wayang krucil memiliki banyak lakon atau tokoh. Tokoh satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan baik dari nama, bentuk, maupun ukuran. Tokoh satu dengan yang lainnya memiliki karakter atau watak yang berbeda pula. Totoh-tokoh yang merupakan tokoh-tokoh pakem pada wayang krucil tersebut, sebagai berikut :
1. Damarwulan 12. Dewagung Baudenda 23.Menakjingga
2. Layangseta 13.Ongkotbuta 24.Layang Kumitir
3. Logender 14.Melik 25. Kencanawungu
4. Patih Udara 15.Klanasura 26.Wahita
5. Puyengan 16.Dewagung Walikrama 27.Adipati Sindura
6. Menak Koncar 17.Daeng Marewah 28.Ranggalawe
7. Buntaran 18. Watangan 29.Angkatbuta
8. Anjasmara 19. Banuwati 30.Dayun
9. Panjiwulung 20. Sabdapalon 31.Klana Candragen
10.Nayagenggong 21. Jaka Sesuruh 32.Ajar Pamengger
11.Prabu brawijaya 22. Daeng Makincing
5 Tokoh wayang krucil karya Mbah Santoso yang sudah jadi sewaktu kami mengadakan penelitian, diantaranya sebagai berikut :
Nama :Damarwulan
Asal : Bojonegoro
Karya : Ki Santosa
Deskripsi :
Damarwulan adalah anak dari Paatih Udara. Sejak kecil tinggal bersama ibu dan kakeknya. Damarwulan memiliki paras yang tampan dan kepribadian yang berani dan cerdas. Dari kecil ia diajarkan berbagai macam ilmu dan berbuat kebajikan. Pada akhir cerita, Damarwulan memiliki 4 istri, diantaranya adalah Dewi Anjasmara, Ratu Kencanawungu, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan.
Nama : Kencanawungu
Asal : Bojonegoro
Karya : Ki Santosa
Deskripsi :
Ratu Kencanawungu merupakan ratu yang memerintah di Majapahit yang berupaya melawan atas pemberontakan Menakjingga. Ratu Kencanawungu bersikap tegas, dan tidak mudah menyerah dalam mempertahankan kerajaan.. Pada akhirnya ia menikah dengan dengan Damarwulan.
Nama : 1. Sabda Palon
2. Nayagenggong
Asal : Bojonegoro
Karya : Ki Santosa
Deskripsi :
Sabdapalon dan Nayagenggong adalah pamong sekaligus kawan bagi Damarwulan. Sabdapalon dan Nayagenggong sangat setia kepada Damarwulan. Dua Punakawan ini juga selalu mengikuti ke manapun Damarwulan pergi dan tidak pernah meninggalkannya. Bahkan dalam perjalanannya ke Majapahit dan Blambangan untuk melawan Menakjingga, kedua Punakawan ini tetap menemani Damarwula.
Nama : Menakjingga
Asal : Bojonegoro
Karya : Ki Santosa
Deskripsi :
Menakjingga merupakan Adipati Blambangan yang memiliki gelar Prabu Urubisma. Dulunya nama dari Menakjingga adalah Joko Umbaran dan memiliki paras yang tampan. Akibat perkelahiannya melawan Kebo Marcuet yang berhasil dikalahkannya, tubuh dan wajah Menakjingga menjadi rusak. Menakjingga memiliki wajah yang buruk rupa, perut buncit, bungkuk serta kaki yang pincang. Wataknya sangat kejam dan bengis. Menakjingga memiliki dua benda pusaka, yaitu Gada Wesi Kuning dan sebuah pedang.
C. Fungsi Wayang Krucil
Tanpa kita ketahui, wayang krucil sebenarnya memiliki makna dan fungsi yang penting. Diantarannya fungsi wayang krucil sebagai berikut :
Wayang Krucil Sebagai Acara Ritual
Pertunjukan wayang krucil sering digunakan untuk ritual-ritual tertentu, misalnya bersih desa yang runtin diadakan setiap tahunnya, ruwatan, dan nadar yang telah disesuaikan dengan kebutuhan.
Wayang Krucil Sebagai Budaya Hiburan
Wayang krucil merupakan salah satu kebudayaan dimana keberadaan wayang mengandung unsur-unsur perilaku kebiasaan ataupun ide yang tak lepas dari lingkungan kehidupan masyarakat itu sendiri. Bagi penonton yang menyaksikan, pertunjukan wayang juga merupakan suatau hiburan yang mana dalam ceritannya mengandung nilai-nilai kehidupan yang dikenal dalam suatu kelompok yang dapat dinikmati.
Wayang Krucil Sebagai Mediator
Penyampaian dengan menggunakan wayang krucil lebih luas dibandingkan dengan wayang lainnya.Pertunjukan wayang krucil biasanya juga digunakan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat ke pemerintah atau sebaliknya. Karena dalam keseharian terdapat masalah-masalah yang mungkin sulit untuk disampaikan antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya.
D. Upaya Pelestarian Wayang Krucil Melalui Teknologi
Nasib Kesenian Wayang Krucil saat ini hampir punah dan kurang diminati para pemuda dan masyarakat setempat. Oleh karena itu, agar wayang krucil dapat tetap dilestarikan kita harus lebih memanfaatkan teknologi diera modern ini untuk melestarikan warisan sejarah dan kebudayaan asli Indonesia, salah satunya WAYANG KRUCIL. Melalui teknologi kita dapat dengan mudah melestarikan wayang krucil. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
Melakukan Sosialisasi dan Membuat Kompetisi di Sekolah
Pengenalan dan sosilaisasi disekolah ini dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan tentang kesenian wayang, khususnya WAYANG KRUCIL. Pengetahuan ini dapat dimasukkan saat mata pelajaran kesenian. Guru dapat memperkenalkan seni wayang ini tidak hanya dengan metode teoritis, agar lebih menarik, sebaiknya para guru menggunakan wayang krucil yang sesungguhnya untuk memperkenalkan dan mendeskripsikannya. Cara lain yang dapat membuat siswa lebih antusias adalah dengan mengajak mereka ke museum wayang yang menyimpan berbagai informasi dan sejarah tentang kesenian wayang.
Selain itu, mengadakan kompetisi di sekolahan juga akan membuat para siswa tertantang dan ingin mencoba menaklukan kompetisi tersebut. Mereka yang tertantang pasti akan lebih mempelajari dan melestarikan wayang krucil tersebut. Dengan banyaknya kompetisi yang digelar juga menandakan bahwa kesenian wayang krucil masih eksis dan di akui oleh bangsa Indonesia sendiri.
Pengemasan Secara Modern
Pengemasan modern ini dapat dilakukan dengan cara pengurangan durasi pertunjukkan yang biasanya dilaksanakan pada malam hari dan selama semalam suntuk. Untuk menarik minat anak muda mungkin durasi yang disajikan harus lebih diperpendek tetapi tetap dengan tidak mengurangi esensi dari tema cerita pertunjukan wayang itu sendiri. Selain itu cerita yang diangkat bisa lebih beragam dan juga dibawakan dengan gaya yang lebih masa kini. Pertunjukan wayang juga dapat diselipkan pada pentas-pentas seni modern disekolah, jika kalangan muda sudah mulai tertarik baru dapat dikembangkan pengenalan lebih mendalam tentang wayang krucil di kalangan masyarakat. Dengan hal-hal seperti ini diharapkan pagelaran wayang krucil tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman.
Penggunaan Teknologi Modern dan Inovasi Baru
Penggunaan teknologi modern disini maksudnya kita memperkenalkan wayang krucil kepada masyarakat setempat dan para pemuda dengan teknologi yang lebih praktis (modern) tetapi tanpa meninggalkan teknologi tradisional. Misalnya dalam pembuatan wayang krucil yang dulunya menggunakan teknologi tradisional yang rumit, kita harus memperkenalkan dengan menggunakan teknologi yang modern sehingga lebih mudah digunakan. Kita juga dapat membuat inovasi baru, misalnya menciptakan wayang yang lebih unik seperti WAYANG TRIPLEK Karya Petrus, sehingga para pemuda akan lebih tertarik.
E. Hasil Penelitian dan Wawancara di Bojonegoro
Mbah Santoso dengan Karya Wayang Krucil nya
Penelitian dilakukan pada tanggal 10 November 2016 di rumah Mbah Santoso, di wilayah Padangan Bojonegoro. Penelitian yang pertama kali ini kami melakukan Wawancara mengenai kehidupan beliau. Mbah Santoso adalah seorang dalang wayang sekaligus pembuat wayang.. Beliau berusia 71 tahun.
Awal mulanya, beliau belajar kepada Bapak Samijan, guru mbah Santoso. Hingga pada akhirnya mbah Santoso menekuni pembuatan Wayang Krucil dan Wayang Thengul tersebut. Mbah Santoso juga masih sering mengadakan pertunjukan wayang,. Kerajinan ukir, wayang Krucil, wayang Thengul dan aneka ukiran kayu menjadi mata pencaharian beliau. Beliau tidaklah sendiri dalam usaha pembuatan wayang Krucil – Thengul. Beliau dibantu oleh Aris Sudarsono (31), salah satu putra beliau yang kini hidup menemani sang ayah.
Wayang Krucil karya mbah Santoso ini sudah sampai ke luar kota. Dewo Ringgih, salah satu pemilik Cafe ternama di Kabupaten Sumenep pun tertarik dengan Wayang Krucil Mbah Santoso. Ia memesan Wayang Krucil Mbah Santoso untuk menghiasi ruang Cafe yang ia buka di Kabupaten Sumenep.
Mbah Santoso menceritakan, bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah mendapat bimbingan dari Perhutani, dan usahanya maju hingga mendapat penghargaan dari presiden kala itu. Namun semenjak Revormasi bergulir, usaha kerajinannya pun jatuh, hingga pekerja yang dahulu didiknya berkerajinan banyak yang harus merantau ke luar daerah. Mbah Santoso merupakan maestro Wayang Krucil di Bojonegoro, yang hingga kini masih berkarya membuat wayang Ikon budaya Kabupaten Bojonegoro tersebut.
F. Hasil Penelitian Pagelaran Wayang Krucil di Bojonegoro
Mbah Sukijah
Penelitian dilakukan pertama kali pada tanggal 24-25 November 2016 di rumah Mbah Sukijah, Ds.Suko, Kec. Temayang, Kab. Bojonegoro. Beliau adalah seorang dalang wayang krucil. Mbah Sukijah berusia 118 tahun, meski usianya sudah sangat tua, beliau masih sehat dan masih dapat membaca tulisan walaupun kecil. Namun telinga Mbah Sukijah sudah tidak dapat mendengar dengan baik lagi. Jika berbicara harus dengan suara yang keras. Beliau tinggal dirumah sendirian karena anak-anaknya sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Namun rumah anaknya ada yang berdampingan dengan rumah mbah Sukijah . Penelitian yang dilakukan disana adalah penelitian mengenai acara-acara yang berkaitan dengan wayang krucil, salah satunya yaitu Ruwatan.
Ruwatan
Ruwatan adalah suatu upacara atau ritual yang bertujuan untuk mengusir nasib buruk atau kesialan yang ada pada seseorang. Seseorang yang diruwat disebut Sukerto. Dipercaya bahwa setelah adanya ritual ini, maka kehidupan sukerto akan menjadi lebih baik, lebih sejahtera dan lebih beruntung. Ruwatan paling terkenal sejak zaman kuno yang diselenggarakan oleh nenek moyang adalah Ruwatan Murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang dengan cerita Murwakala. Orang-orang kategori sukerto yang harus diruwat/disucikan diantaranya, sebagai berikut :
Sukerto karena kelahiran seperti anak tunggal, kembar, berdasarkan waktu kelahiran, misalnya anak yang dilahirkan tengah hari atau saat matahari terbenam dll.
Sukerto karena berbuat kesalahan meski tidak sengaja seperti : seperti memecahkan gandhik, alat pembuat jamu; menjatuhkan dandang ( tempat untuk menanak nasi) waktu sedang masak nasi.
Sukerto karena dalam hidupnya terkena banyak musibah, sial, penyakit dan sering diancam bahaya.
Persiapan pelaksanaan ruwatan
Sebelum pelaksanaan upacara ruwat, beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu :
1. Uborampe/ peralatan yang dipergunakan dalang dan sukerto
Sepotong kain putih yang disebut mori, panjang 3 meter dibagi dua, yang sebelah diduduki dalang, potongan lainnya diduduki sukerto. Diatas mori ditaburi bunga mawar, melati, gambir.
Pakaian para sukerto pada waktu upacara, sesudah selesai upacara diberikan kepada Ki Dalang.
Disediakan nasi kuning dicampur uang logam, nantinya disebar oleh dalang.
Pengaron baru, tempat air terbuat dari tanah liat yang diisi air dari tujuh sumber dicampur dengan kembang setaman dari mawar, melati, kenanga dan dua buah telor ayam. Gayung yang dipakai untuk memandikan sukerto terbuat dari buah kelapa dibagi dua, daging kelapanya tidak dibuang.
2. Orang tua dari para sukerto berpakaian adat dengan baik.
3. Seorang dalang sepuh yang mumpuni untuk melakukan upacara ruwatan sukerto, lengkap dengan seperangkat panggung wayang krucil dengan gamelan dan para penabuh dan pesindennya. Tetapi uniknya Mbah Sukijah ini tidak menggunakan gamelan dan sinden.
4. Tempat untuk pelaksanaan ruwatan yang cukup luas untuk panggung wayang kulit, tempat duduk para sukerto dan orang tuanya dan tempat-tempat air untuk memandikan sukerto.
5. Sesaji yang diperlukan cukup banyak. Pada masa kinibanyak orang terutama generasi muda yang tidak mengerti esensi sesaji. Sesaji yang bermacam- macam itu bermaksud baik, bila diurai berarti :
Panembah dan ungkapan terimakasih kepada Gusti, Tuhan Sang Pencipta.
Permohonan kepada Tuhan supaya upacara dan tujuannya yang mulia mendapat berkah dan perlindungan Tuhan.
Mendapatkan restu para pinisepuh.
Berisi petuah-petuah bijak untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar.
Supaya tidak ada gangguan berupa apapun dari mahluk yang kelihatan dan”tidak kelihatan”.
b) Sesaji Ruwatan
Dua ranting kayu dadap srep lengkap dengan daunnya. Dua batang tebu dengan daunnya. Dua ikat padi. Dua buah kelapa. Dua tandan buah pisang.
Ayam jago untuk sukerto lelaki dewasa, ayam betina untuk sukerto wanita. Ayam jago muda untuk sukerto lelaki remaja, ayam betina muda untuk sukerto putri remaja.
Kendil baru diisi beras dan sebuah telor, dua sisir, pisang raja, suruh ayu yang belum jadi, kembang boreh- tepung beras dicampur kembang, uang dengan nilai Rp.500 atau Rp. 1000
Tikar dan bantal baru, minyak wangi, sisir, bedak, cermin dan kendil.
Sekul among- nasi dengan sayuran dan telur, biasanya untuk bancakan, syukuran anak kecil.
c) Pelaksanaan Ruwatan
Para sukerto diantar oleh para orang tuanya diterima oleh Ki Dalang yang akan meruwat.Salah seorang orang tua sukerto atau seseorang yang ditunjuk menyerahkan para sukerto kepada Ki Dalang untuk diruwat. Serah terima sukerto berjalan dengan khusuk, dibarengi aroma ratus dupa yang lembut harum. Suasana sakral terasa.
Para sukerto duduk bersila dibelakang kelir wayang dan selama pagelaran bersikap santun dan memperhatikan cerita wayang dan nasihat, kidung dan doa-doa/mantra yang diucapkan oleh Ki Dalang. Para orang tua sukerto duduk ditempat yang telah disediakan, dekat dengan putra-putrinya.
Ki Dalang duduk ditempatnya didepan kelir dan mulai mendalang wayang dengan cerita Murwakala sesuai dengan gambar dibawah ini :
G. Hasil Penelitian Pembuatan Wayang Krucil Inovasi Baru di Kediri
Pak Petrus Dengan Wayang Buatannya
Penelitian yang selanjutnya pada 25-26 Desember 2016 dilakukan di rumah Pak Petrus Kediri. Beliau merupakan salah satu penggemar wayang krucil. Beliau memiliki hobi membuat wayang krucil dari kayu maupun kertas karton. Namun tidak untuk dijual melainkan hanya untuk koleksinya sendiri. Akhir-akhir ini keahlian pak petrus dalam membuat wayang dikenal oleh banyak orang. Terkadang tetangga setempat mendatangi rumah pak Petrus untuk melihat koleksi-koleksi wayangnya.
Hal yang melatarbelakangi keahlian Pak Petrus ini yaitu ketika beliau masih kecil, beliau termotivasi oleh Pak Joyoladi. Pak Joyoladi adalah seorang tukang becak yang tidak bersekolah namun dapat membuat wayang. Dalam pewarnaan wayang yang dibuatnya menggunakan asap pada lilin yang dibakar untuk warna hitam. Sesudah di beri warna hitam kemudian di beri minyak goreng agar warnanya mengkilap dan tidak luntur. Sedangkan untuk warna kuning / emas, Pak Joyoladi menggunakan grenjeng bungkus rokok. Wayang Krucil buatan Pak Joyoladi inilah yang menjadi motivasi Pak Petrus. “ Jika Pak Joyoladi yang hanya seorang tukang becak, tidak bersekolah, dan kehidupannya pun sangat sederhana bisa membuat wayang, Kenapa saya tidak bisa !!! “ ujar Pak Petrus.
Sejak saat itu Pak Petrus belajar membuat wayang . Ketika beliau SMP, beliau bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai cara membuat pola wayang , cara pewarnaan dan lain-lain. Hingga saat iniwayang buatan Pak Petrus berjumlah 500-an wayang.
Akhir-akhir ini banyak orang yang ingin dibuatkan wayang oleh Pak Petrus. Salah satunya adalah seorang polisi yang meminta untuk dibuatkan wayang yang berukuran sangat besar. Karena yang diinginkan wayang yang berukuran besar, pak petrus berinisiatif untuk membuat wayang dari triplek yang dilihat dari segi ukuran dapat dibuat dari wayang terkecil sampai terbesar. Selain itu jika dilihat dari segi harga triplek juga relative murah dibandingkan dengan kayu dan mudah didapat. Berawal dari itu, pak petrus mencoba membuat kreasi wayang baru yang terbuat dari triplek. Beliau membuat dua wayang yang berukuran sangat besar . Sejak saat itu pak petrus beralih dari pembuatan wayang krucil yang dulunya terbuat dari kayu diganti terbuat dari triplek.
Dalam pembuatannya, Jika dulu menggunakan alat-alat tradisional, seperti : tatah ukir, tatah wuku, rempelas, dll sekarang sudah menggunakan alat yang modern yaitu gergaji mesin yang bisa lebih cepat dan mudah dalam pemotongan wayang. Dalam menghubungkan tangan wayang triplek ini dengan badan wayang menggunakan sedotan air mineral yang kecil. Caranya dengan membakar sedotan tersebut sampai meleleh melengkung kemudian dimasukkan pada lubang tangan dan badan wayang. Setel itu digunting dan dibakar lagi hingga melelh melengkung. Menghubungkan dengan cara ini sangat mudah dan tidakmudah lepas.
Selain itu pak petrus juga membuat kreasi sendiri dalam membuat motif batik pada wayang. Hal ini karena beliau ingin membuat sesuatu yang baru namun dapat diterima oleh masyarakat. Motif batik ini merupakan imajinasi beliau sendiri, seperti : motif lengkung dan bunga.
Dalam pewarnaan pun juga tidak terlalu rumit sama seperti pewarnaan pada wayang krucil biasanya. Namun dalam wayang yang terbuat dari triplek ini memiliki kelemahan mudah patah . Jika wayang ini patah masih dapat diperbaharui lagi dengan cara di lem kembali dan warnanya juga di warnai lagi. Selain itu wayang ini belum teruji jika waktunya semakin lama wayang tersebut akan melengkung seperti wayang kulit atau tidak karena pembuatan wayang dari triplek ini masih baru. Wayang buatan Pak Petrus ini belum ada yang membuatnya dan wayang tersebut adalah wayang satu-satunya yang terbuat dari triplek. Hingga sekarang wayang tersebut belum diberi nama oleh pak petrus. Sejak saat itu pak petrus sudah tidak membuat wayang krucil yang terbuat dari kayu.
Proses Pembuatan
Wayang krucil biasanya terbuat dari kayu. Namun dalam era modern ini, ternyata wayang krucil juga bisa di buat menggunakan bahan lainnya. Seperti : triplek, kardus, dan karton. Berdasarkan penelitian kami di kota Kediri dirumah pak petrus. Beliau merupakan salah satu penggemar wayang krucil. Beliau memiliki hobi membuat wayang krucil dari kayu maupun kertas karton. Namun tidak untuk dijual melainkan hanya untuk koleksinya sendiri. Akhir-akhir ini keahlian pak petrus dalam membuat wayang dikenal oleh banyak orang. Salah satunya adalah seorang polisi yang meminta untuk dibuatkan wayang yang berukuran sangat besar. Karena yang diinginkan wayang yang berukuran besar, pak petrus berinisiatif untuk membuat wayang dari triplek yang dilihat dari segi ukuran dapat dibuat dari wayang terkecil sampai terbesar. Selain itu jika dilihat dari segi harga triplek juga relative murah dibandingkan dengan kayu dan mudah didapat. Berawal dari itu, pak petrus mencoba membuat kreasi wayang baru yang terbuat dari triplek. Beliau membuat dua wayang yang berukuran sangat besar yaitu werkudara dan buta raksasa.
Sejak saat itu pak petrus beralih dari pembuatan wayang krucil yang dulunya terbuat dari kayu diganti terbuat dari triplek. Dalam pembuatannya, Jika dulu menggunakan alat-alat tradisional, seperti : tatah ukir, tatah wuku, rempelas, dll sekarang sudah menggunakan alat yang modern yaitu gergaji mesin yang bisa lebih cepat dan mudah dalam pemotongan wayang. Selain itu pak petrus juga membuat kreasi sendiri dalam membuat motif batik pada wayang. Hal ini karena beliau ingin membuat sesuatu yang baru namun dapat diterima oleh masyarakat. Motif batik ini merupakan imajinasi beliau sendiri, seperti : motif lengkung dan bunga. Dalam pewarnaan pun juga tidak ada kesulitan, namun wayang yang terbuat dari triplek ini memiliki kelemahan mudah patah . jika wayang ini patah masih dapat diperbaharui lagi dengan cara menyambungkan dengan lem oleh karena itu, kami tertarik pada wayang yang terbuat dari triplek ini. Karena belum ada yang membuatnya dan wayang pak petrus tersebut adalah wayang satu-satunya yang terbuat dari triplek. Hingga sekarang wayang tersebut belum diberi nama oleh pak petrus. Sejak saat itu pak petrus sudah tidak membuat wayang krucil yang terbuat dari kayu.
Alat dan Bahan :
Triplek
Tatah ukir
Gergaji mesin
Bor mesin
Spidol
Cat
Sedotan air mineral
Gunting
Korek api
Kuas
Rempelas
Langkah-langkah :
Membuat pola wayang. Kemudian pola tersebut diblat di triplek
Setelah itu digergaji menggunakan gergaji mesin sampai wayang terbentuk
Menghaluskan wayang menggunakan rempelas sampai halus
Setelah itu membuat gambar detail-detail wayangnya menggunakan pensil
Kemudian bagian-bagian yang perlu dilubangi ditatah menggunakan tatah ukir dan dihaluskan mengguanakn rempelas
Diberi warna dasar putih atau kuning. Untuk wayang yang berbadan emas diberi warna dasar kuning, sedangkan untuk wayang yang berwarna putih dan hitam diberi warna dasar putih.
Setelah itu di beri warna sesuai dengan naluri hati/ terserah diri sendiri
Membuat motif batik menggunakan spidol hitam atau bolpoin.
Agar warna tersebut tidak pudar ketika terkena air, maka diberi lem kayu.
Kemudian pasang tangan wayang dengan badan wayang menggunakan sedotan air mineral yang kecil, seperti sedotan air mineral Cleo.. Membuat duding menggunakan bambu kecil yang berdiameter > 1 cm. Untuk ukuran panjangnya dari jari tangan sampai ketelinga wayang.
Wayang triplek ini belum pernah dipentaskan. Namun Pak Petrus ngin mementaskan wayang triplek ini dengan bahasa dan cerita yang dibawakan adalah cerita kehidupan sehari-hari.
Koleksi Wayang Pak Petrus
Pak Petrus merupakan salah satu tokoh penggemar wayang krucil dari Kediri. Hingga saat ini jumlah wayang krucil yang ada di rumah pak petrus mencapai 500 wayang yang beliau buat sejak kecil. Sebagian koleksi wayang pak Petrus, sebagai berikut :
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Wayang Krucil dalam upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya melalui teknologi, maka penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut :
Wayang krucil tidak begitu dikenal masyarakat.
Teknologi yang modern saat ini belum dimanfaatkan dengan baik untuk melestarikan wayang krucil.
Kurangnya kreativitas masyarakat untuk mengembangkan wayang krucil.
Kurangnya semangat para pemuda untuk mempelajari wayang krucil.
Mulai punahnya wayang krucil dikarenakan pengrajin dan dhalang wayang krucil yang sulit ditemukan.
B. Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan pada lokasi penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi Pemerintah
Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan nasib warisan sejarah dan kebudayaan (Wayang Krucil khususnya) agar tetap lestari dan tidak punah.
Pemerintah sebaiknya memberikan dukungan, berupa modal ataupun bimbingan kepada para pengrajin wayang krucil.
Pemerintah sebaiknya memberikan penghargaan kepada seseorang yang dengan ikhlas melestarikan wayang krucil.
2. Bagi Para Generasi Penerus Bangsa
Para pemuda generasi penerus bangsa harusnya mempunyai semangat untuk mengenal lebih dalam hal-hal yang berkenaan dengan wayang krucil.
Para pemuda harusnya lebih menyukai warisan sejarah dan budaya asli Indonesia (Wayang Krucil khususnya).
Seiring perkembangan teknologi yang semakin modern ini, sebaiknya para pemuda harus lebih memanfaatkan teknologi tersebut untuk melestarikan wayang krucil agar tidak mengalami kepunahan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penulis menyarankan kepada para peneliti selanjutnya untuk lebih mengupas lebih dalam mengenai permasalahan yang berkenaan dengan wayang krucil, dengan istrumen penelitian yang lebih beragam.
Peneliti yang akan melakukan penelitian hamper sama dengan penulis semoga hasil penelitian ini dapat membantu penelitian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Wijiyo, Alice. 2012. Jagad Wayang Klithik. Siwalankerto: Desain Komunikasi Visula Universitas Kristen Petra.
Setya, Yuwana. 2000. Wayang Krucil Sebagai Seni Pertunjukan Rakyat. Surabaya: Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.
LAMPIRAN